headerphoto

Di Pusat Kota, Sekolah Minim Lahan Bermain

Rabu, 30 Januari 2008 06:14:55 - oleh : redaksi - dilihat 1013
Drs Supriyadi

Bila dipetakan, dari lima kecamatan di Kota Malang, Kecamatan Klojen bisa dibilang sebagai pusatnya kota. Di wilayah ini gedung pemerintahan daerah berdiri termasuk juga bangunan perkantoran dan beragam gedung tempat berbagai usaha. Ikon Malang sebagai Kota Pendidikan juga nampak di wilayah Klojen yang ditandai dengan banyaknya lembaga pendidikan, mulai dari jenjang pra sekolah hingga perguruan tinggi.
Pada setiap wilayah kecamatan di Kota Malang ini tentu memiliki karakter tersendiri, baik secara struktur sosial dan sistem kemasyarakatannya, hingga tantangan dalam pengelolaan lembaga pendidikan. Dengan jumlah penduduk tinggi dan luas wilayah yang tidak luas namun sudah padat, membuat orientasi pengembangan lembaga pendidikan di Kecamatan Klojen, lebih diarahkan pada peningkatan kualitas pembelajaran.
Bila hendak disebut sebagai tantangannya, khususnya bagi jenjang pendidikan dasar, pengembangan pendidikan di wilayah Klojen terkendala oleh minimnya lahan yang dimiliki sekolah. Salah satu pengaruh dari keterbatasan lahan ini, yaitu minimnya sarana dan prasarana bagi anak untuk mengembangkan diri. Khususnya terkait dengan kegiatan non akademik, seperti olahraga.
Berikut penuturan dari Kepala UPTD Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan Kota Malang ini kepada Mas Bukhin dan fotografer Hayu Yudha Prabawa dari KORAN PENDIDIKAN.

Sebagai bagian dari Dinas Pendidikan di tingkat kecamatan bisa anda jelaskan apa sebenarnya yang menjadi tantangan dalam penyelenggaraan pendidikan dasar di wilayah Klojen selama ini?
Perlu saya sampaikan dulu bahwa dalam penyelenggaraan pendidikan dasar di Kota Malang ini memiliki fokus dan orientasi yang berbeda di setiap kecamatan, termasuk juga tantangannya. Sebab ini terkait dengan sistem dan struktur sosial kemasyarakatan di masing-masing wilayah. Saya bisa katakan demikian, sebab sebelum diberi tanggung jawab di Klojen ini, saya pernah bertugas di Kedungkandang dan Sukun.
Khusus untuk wilayah Klojen, orientasi pengembangan pendidikannya sudah diarahkan ke peningkatan kualitas dan pencapaian prestasi sekolah. Sedikit tantangan untuk pengembangannya, sekolah-sekolah di wilayah Klojen ini memiliki lahan yang sempit. Sehingga tidak semua sekolah memiliki sarana yang lengkap untuk memfasilitasi perkembangan diri siswa, khususnya ketersediaan lahan untuk olahraga.

Menarik juga, ternyata dalam satu kota dan dengan program pendidikan yang sebenarnya dicanangkan berlaku di keseluruhan wilayah, ternyata dalam pelaksanaan butuh pendekatan di masing-masing wilayah?
Betul. Semasa saya di Kedungkandang misalnya, fokus pengembangan pendidikannya tidak melulu pada peningkatan kualitas. Tidak pula buru-buru ngomong prestasi sekolah. Orientasi di wilayah ini lebih ke penyadaran bagi masyarakat akan pentingnya pendidikan bagi anak-anaknya, khususnya untuk bisa mendapatkan pendidikan dasar yang layak.
Pendekatannya juga harus berbeda, tidak bisa dengan hanya memberi surat himbauan atau diajak ngumpul untuk rapat. Kami dan pihak sekolah harus turun menemui masyarakat dan memberikan penjelasan. Bahkan biasanya, kalau pas Ujian Nasional, kami harus menjemput anak-anak itu dari rumah agar mau mengikuti ujian. Ini yang tadi saya bilang bahwa di setiap wilayah di Kota Malang itu ada perbedaan sistem sosial.

Sedikit perbedaan saja, kalau tadi anda bilang adanya tingkat perbedaan kesadaran di masyarakat, bagaimana gambaran di Klojen?
Contoh saja ya, orangtua di Klojen itu kalau ada yang salah sedikit dengan penyelenggaraan pendidikan anaknya, langsung mencari informasi. Misalnya anaknya cerita kalau ada guru yang terlambat, orangtua langsung telepon ke sekolah dan bahkan ke UPTD untuk menanyakan kenapa itu bisa terjadi. Bagi kami, ini satu masukan besar untuk terus melakukan pembenahan bagi penyelenggaraan pendidikan yang lebih baik

Oke, di wilayah Klojen ada tantangan minimnya lahan. Bagaimana pendekatan yang dirumuskan untuk menyiasatinya?
Di Klojen, lembaga pendidikan yang menjadi tanggung jawab kami sebagai UPTD Pendidikan Dasar itu ada 74 TK, 44 SD (Negeri/Swasta) dan pendidikan luas sekolah yang dikelola mandiri oleh kelompok masyarakat. Khusus untuk TK dan SD, dengan jumlah lembaga yang banyak ini, ada pendekatan yang dinamakan Gugus Sekolah. Prinsip pengembangannya; satu gugus maju bersama.
Ini berarti semua sekolah yang berada dalam satu gugus itu harus bekerja sama dan saling melengkapi demi pencapaian kualitas yang sama. Termasuk dalam hal menyiasati keterbatasan sarana prasarana. Di SD Taman Harapan misalnya, ada fasilitas Kolam Renang. Ini bisa digunakan juga oleh semua sekolah yang ada dalam satu gugus, bahkan oleh semua sekolah lain di wilayah Klojen.
Demikian juga di SD Rampal Celaket yang memiliki Aula Pusat Sumber Belajar yang memadai. Selama ini para guru pada semua sekolah di wilayah Klojen memanfaatkannya untuk saling belajar. Hal lain yang kami lakukan untuk menyiasati keterbatasan sarana, khususnya untuk olahraga, ya memanfaatkan fasilitas umum yang dimiliki oleh pemerintah kota. Misalnya GOR Ken Arok atau Stadion Gajayana.

Orientasi pada peningkatan kualitas, tentu amat terkait dengan pembinaan bagi para guru. Apa program yang sudah jalan di Klojen selama ini?
Di Klojen, ada 6 Kelompok Kerja Guru (KKG). Di forum ini setiap bulan para guru ngumpul untuk bertemu bersama para pengawas membicarakan tentang strategi pembelajaran dan permasalahan yang ada di sekolah. Dengan forum rutin ini, akhirnya semua guru bisa mendapatkan hal-hal baru termasuk yang berkaitan dengan metode pembelajaran dan peningkatan kapasitas.
Nah, ini yang juga menjadi kelebihan bagi pengembangan pendidikan di Klojen. Rata-rata guru dan kepala sekolahnya sudah banyak berpengalaman dan memiliki prestasi, baik secara pribadi maupun lembaga. Jadi untuk bisa berbagi ilmu dan pengalaman itu tidak perlu jauh-jauh mendatangkan dari wilayah atau kota lain, cukup dari sesama wilayah. Tidak makan waktu dan biaya.
Metode lain yang kami kembangkan adalah program imbas. Semisal ada program pembinaan dari tingkat Kota, Provinsi maupun nasional, perwakilan guru yang dikirim dari Klojen harus mengimbaskan pada guru yang lain. Ya karena tidak mungkin kalau kami harus mengirim semua guru di Klojen ini untuk mengikuti. Perlu diketahui juga, bahwa dalam forum KKG, para guru juga merumuskan alat peraga pembelajaran.

Bicara hasil, dengan orientasi pada kualitas dan prestasi, bisa digambarkan sejauhmana prestasi itu telah dicapai oleh Klojen?
Ya, syukur Alhamdulillah beberapa sekolah di wilayah Klojen yang sudah menjadi rujukan bagi sekolah lain, baik di Kota Malang maupun d luar kota. Seperti SD Negeri Kauman I, SD K Corjesu, SD K Santa Maria III, dan juga SD Taman Harapan. Ada juga SD Kasin yang sering sekali didatangi tamu dari sekolah lain dari luar kota untuk melakukan studi banding. Pada 2007 lalu, Gugus TK Klojen menjadi juara pertama tingkat provinsi. Ini penghargaan pertama yang diterima oleh Kota Malang.

Terakhir, bagaimana dengan angka buta aksara di wilayah Klojen ini. Dengan orientasi pengembangan pendidikan dasar yang sudah ke arah kualitas, harusnya sudah tidak ada lagi penyandang buta aksara termasuk juga angka putus sekolah?
Saya bisa bilang bahwa angka buta aksara dan angka anak putus sekolah di wilayah Klojen itu 0 persen, artinya memang sudah tidak ada. Angka putus sekolah kami tekan dengan memberi motivasi pada para guru agar berusaha dengan sekuat tenaga dan segala upaya agar anak didiknya tidak putus sekolah di tengah jalan. Kalau perlu dibantu segala kebutuhan anak untuk bisa tetap bersekolah.
Sedangkan untuk menekan angka buta aksara, partisipasi organisasi kemasyarakatan di Klojen ini sangat tinggi. Berbagai penyelenggaraan pendidikan luar sekolah sudah dilakukan secara mandiri oleh masyarakat. Seperti PKK dan juga Muslimat, termasuk juga ada PKBM Srikandi. Gabungan antara partisipasi yang tinggi dan kesadaran masyarakatnya yang tinggi ini, angka buta aksara bisa angat ditekan hingga 0 persen. (*)

BIODATA

Nama             : Drs Supriyadi
Lahir               : Trenggalek, 20 Desember 1959
Alamat            : Jl Kiai Parseh Jaya 4D Malang
Pendidikan      : SD Negeri Bunguran I Trenggalek
                       : SMP Negeri Kampak Trenggalek
                       : SMPS Negeri Malang
                       : S1 PLS IKIP Negeri Malang
Karir               : 1989 – 1997 Penilik Pendidikan Masyarakat
                       : 1997 – 2001 Kepala Kantor Dikbud Kec. Kedungkandang
                       : 2001 – 2005 Kepala Cabang Dinas Pendidikan Kec Sukun
                       : 2005 – kini Kepala UPTD Pendidikan Dasar Kec Klojen
                       : Ketua III Tim Pembina UKS Kecamatan Klojen
Istri                 : Atik Setyowati SPd
Anak               : Priyo Arif Wicaksono
                       : Rizki Agung Setiawan
                       : Putri Indah Lestari


Kirim ke Teman  Cetak             

Berita "Dialog" Lainnya

Polling

Rubrik Yang Disukai Menurut Anda :

 

Komentar Pembaca

 d kiko abdurahhman on Menggali Sejarah, Menemukan Ikon Kota
saya sangat mendukung dengan adanya koran pendidik...

 Ummu Nisa on Toko Buku Prestasi beri Diskon 20-30 Persen
Saya tertarik dengan bisnis Toko Buku dan alat per...

 Maryanti on Mengintegrasikan Kecerdasan Ganda bagi PAUD
Subhanalloh ternyata kecerdasan itu jamak. kl j...

 sunarti.c on Pramuka Takkan Mati oleh Gempuran Budaya
Saya alumni 81/82 Saya senang bisa silaturahmi ...

 Jono on Yang Menjanjikan di Tahun 2010 : Beasiswa Kuliah sampai Lulus, judul Untuk 20 Ribu Orang
Saya ingin sekali kuliah dan meraih cita-cita kare...

Kalender Kegiatan

« Sep 2010 »
M S S R K J S
29 30 31 1 2 3 4
5 6 7 8 9 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 1 2
3 4 5 6 7 8 9

Surat Pembaca

Random Links

Informasi Formula Bisnis

View : 102 x hits
Join : 17-Jul-2009 19:07:12

Statistik Situs

Visitors : 1275620
Hits : 2693497
Month : 10743
Today : 426
Online : 11