headerphoto

Lelaki yang Tertulis Pada Sekuntum Puisi

Selasa, 24 Maret 2009 10:28:32 - oleh : redaksi - dilihat 426
Rahayu Khalifatulloh (*)

Lanjutanedisi sebelumnya …

"Aku jatuh cinta sama puisi Nihla," kata Adrian pada suatu saat. Ia
merasa kagum pada puisi-puisi Nihla yang selama ini ia baca dari laptop
Cleo.

Cleo yang sedang meneguk minuman pun tersedak.

"Nggak salah denger?" tanya Cleo mencoba meyakinkan.

"Aku serius.Aku benar-benar jatuh cinta sama yang buat puisi ini. Aku ingin ketemu sama Nihla!" jawab Adrian serius.

Cleo terdiam sesaat.

"Kamu belum kenal karakter Nihla, yan! Kamu cuma terobsesi sesaat. Aku
nggak mau akhirnya kamu permainin adikku, lagian nggak mungkin kan
orang jatuh cinta cuma karena baca puisi?" Cleo mencoba menghalangi
keinginan Adrian.

Kini giliran Adrian yang terdiam. Apakah mungkin ia hanya terobsesi sesaat oleh puisi yang dibuat oleh Nihla?

"Tapi apa boleh aku ketemu sama Nihla?" tanya Adrian.

"Boleh, tapi janji kamu nggak akan nyakitin dia. Nihla satu-satunya harta yang aku punya," kata Cleo mengingatkan.

Adrian mengangguk mantap.

"Kalau gitu nanti datang kerumahku," kata Cleo.

"Oke, aku pasti datang!" Adrian meyakinkan.

"Awas kalau nggak datang," kecam Cleo sambil mengepalkan tinjunya ke arah Adrian. Mereka berdua pun kembali tertawa berderai.

***

Adrian mengetuk pintu rumah Cleo dengan rasa was-was. Tak lama kemudian
pintu itu terbuka dan tampaklah Cleo dengan wajah kerasnya yang kusut.

"Masuk, tapi tunggu sebentar, Nihla masih di kamar," kata Cleo kaku. Wajah Cleo terlihat tak bersahabat.

Adrian mengikuti petunjuk Cleo. Ia duduk di sebuah sofa yang empuk.
Sepasang sahabat yang biasanya akrab kini terlihat seperti dua orang
yang saling tak mengenal.

"Bentar,aku panggilin Nihla dulu. Ingat pesanku, jangan sakiti hati
Nihla!" kecam Cleo sebelum akhirnya masuk kedalam sebuah kamar yang
tertutup serambu merah.

Adrian menanti dengan hati tak menentu.

Tak lama kemudian keluarlah seorang gadis cantik dari kamar berserambu
merah. Kulitnya putih halus, rambutnya yang coklat tergerai pasrah,
matanya yang indah tertutupi oleh poni,bibirnya yang mungil tersenyum
manis menyambut kedatangan Adrian. Adrian seolah menyaksikan seorang
bidadari. Namun alangkah terkejutnya Adrian saat menyadari keadaan
Nihla yang lumpuh. Sepanjang hidupnya tergantung pada kursi roda.

Cleo mendorong kursi roda itu mendekati tempat dimana Adrian duduk.

"Jaga Nihla!" bisik Cleo pada Adrian sebelum akhirnya ia meninggalkan Adrian dan Nihla berduaan.

Adrian merasa grogi berhadapan dengan Nihla.

"Nil, aku suka kamu!" kata Adrian setelah berhasil menguasai diri.

Nihla yang sedari tadi tertunduk kini menatap Adrian dengan pandangan tak mengerti.

"Tapi, kita masih belum mengenal satu sama lain," jawab Nihla dengan suara selembut kapas.

"Dari puisi-puisimu yang aku baca, aku bisa mengenal karakter kamu, aku
bisa meraba perasaanmu, Nil!" Adrian mencoba menjelaskan meski Nihla
terlihat kurang puas dengan penjelasannya.

"Itu belum cukup, Kak. Aku butuh waktu buat menjawabnya," jelas Nihla seraya menatap Adrian lekat.

"Oke! Aku tunggu jawabannya,tapi aku benar-benar berharap ke kamu," kata Adrian seraya meninggalkan Nihla.

***

"Sopan banget kamu! Ninggalin rumahku tanpa pamit!" seru Cleo kesal seraya membanting bukunya.

"Ya maaf, aku masih tersihir oleh kecantikan Nihla," jawab Adrian.

"Sejak kapan kamu jadi puitis?" tanya Cleo heran..

"Sejak aku kenal Nihla," jawab Adrian santai.

"Halah, dia minta kamu nanti ke rumah.Dia mau ngasih jawaban ke kamu," kata Cleo seraya menatap Adrian lekat.

Adrian tak mampu mengucapkan sepatah kata sekalipun. Hatinya berada dalam kebimbangan.

***

Hati Adrian seolah membeku saat ia berada di hadapan Nihla. Gadis
cantik itu memainkan rambutnya seraya menyembunyikan wajah innoucentnya.

"Jadi apa jawaban kamu?" tanya Adrian.

"Kamu tahu, aku sudah lama suka ke kamu. Setiap kamu datang ke rumah,
aku hanya bisa melihat kamu. Dan puisi-puisi yang aku simpan di laptop
Kak Cleo itu aku buat untuk kamu," kata Nihla dengan logat sundanya
yang khas.

"Jadi kamu terima aku?" tanya Adrian mencoba memastikan.

Nihla hanya mengangguk seraya menundukkan wajahnya.

Adrian girang bukan main.Ia memeluk tubuh Nihla.

"Kamu mau terima keadaanku yang lumpuh?" tanya Nihla.

"Aku nggak mencintai fisik kamu, tapi aku mencintai hati kamu. Aku
nggak peduli sama keadaanmu yang lumpuh. Yang aku pedulikan adalah aku
cinta kamu," jawab Adrian singkat.

Adrian semakin erat memeluk Nihla.

Tidaklah ada artinya cinta kepada fisik seseorang, karena cinta itu
akan hilang termakan waktu. Cintailah seseorang dengan segala kelebihan
pada seseorang tersebut. Cinta itu buta, namun cinta dapat menyentuh
hati siapapun..



(*) Pelajar SMPN 1 Singosari







Kirim ke Teman  Cetak             

Berita "cerpen" Lainnya

Polling

Rubrik Yang Disukai Menurut Anda :

 

Komentar Pembaca

 lusi nursobah on SMP Raden Patah Impikan Sekolah Berbasis Agribisnis
saya mau tanya bagaimana caranya mengembangkan sek...

 veronika wawo on Di Balik Kegagalan UN
kalau susun soal ujian nasional perbandingan soal ...

 Agustinus Slamet R. on Tentang SK Inpassing
Berkas inpassing kami masukan ke Jakarta bulan Jun...

 d kiko abdurahhman on Menggali Sejarah, Menemukan Ikon Kota
saya sangat mendukung dengan adanya koran pendidik...

 Ummu Nisa on Toko Buku Prestasi beri Diskon 20-30 Persen
Saya tertarik dengan bisnis Toko Buku dan alat per...

Kalender Kegiatan

« Sep 2010 »
M S S R K J S
29 30 31 1 2 3 4
5 6 7 8 9 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 1 2
3 4 5 6 7 8 9

Surat Pembaca

Random Links

Rumi Ridwan

View : 136 x hits
Join : 24-Nov-2007 19:48:25

Statistik Situs

Visitors : 1278252
Hits : 2705438
Month : 10376
Today : 354
Online : 4