headerphoto

Lingkungan Bersih, Nyamuk pun Risih

Selasa, 3 November 2009 08:31:48 - oleh : redaksi - dilihat 599

SDN Mojoroto Wakil LH ke Jatim
SDN MOJOROTO 4
- Pekan lalu, SDN Mojoroto 4 kembali mendapatkan kunjungan terkait dengan lingkungan hidup. Kali ini bukan lomba UKS atau LSS. Melainkan terkait dengan keberhasilan sekolah tersebut mengelola manajemen lingkungan bidang pemberantasan sarang nyamuk.
Mewakili Kota Kediri, SDN Mojoroto 4 menjadi satu dari sembilan sekolah nominator dalam lomba pemberantasan sarang nyamuk se Jatim. Apa saja kiat sekolah ini menangani persoalan nyamuk dan lingkungan?
Soal pembelajaran lingkungan hidup, SDN Mojoroto 4 mungkin sama dengan sekolah-sekolah lain di Kediri, yang terimbas program kerja pemerintah kota mengenai lingkugan hijau dan bersih. Hanya saja sekolah ini konsisten menerapkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Lingkungan hidup baru tahun ini secara resmi dijadikan salah satu materi pengembangan diri. Namun penanaman budaya bersih pada siswa sudah kami lakukan jauh hari sebelumnya,” terang Kepala SDN Mojoroto 4 Kediri, M Dwi Astuti, SPd, MPd.
Menanamkan budaya, lanjut Dwi, tidak semudah membalik telapak tangan. Hampir tiap saat, sekolah selalu mengingatkan pada siswanya tentang hal ini. Meskipun perlahan, hasil tersebut sudah bisa dilihat buktinya. Paling kentara adalah cara siswa membuang sampah. Di SDN Mojoroto 4, siswa telah terbiasa membuang sampah secara terpisah, antara sampah kering dan sampah basah. Padahal petunjuk dan identitas tempat sampah sudah lama dihilangkan.
”Siswa sudah terbiasa dengan pembedaan warna tempat sampah. Sekang tanpa tulisan sampah kering atau basahpun, siswa sudah terbiasa memilah sampahnya,” imbuh Dwi.
Khusus untuk pemberantasan sarang nyamuk, sekolah ini memang memiliki program spesial. Selain agenda bersih-bersih secara umum yang tertuang dalam Jumat bersih, sekolah juga memiliki jadwal piket siswa mengamati kebersihan titik sarang nyamuk. Tiap akhir pekan, secara bergilir siswa memeriksa lokasi-lokasi ‘berair’, untuk memastikan kebersihan tempat tersebut dari aktifitas nyamuk.
Kelebihan lain adalah keberhasilan sekolah menarik budaya bersih ini dalam perimeter 500 meter. Disebutkan Dwi, sekolah membentuk tim-tim siswa sebagai observator dan sosialisator mengenai nyamuk. Melalui sekolah, tim ini bekerjasama dengan RT/RW dan PKK setempat untuk secara rutin bekerja memberantas nyamuk. Tim yang terdiri dari siswa kelas empat hingga enam tersebut, mengobservasi lingkungan dan mensosialisasikan kepada masyarakat mengenai tata cara memberantas sarang nyamuk.
“Setiap tiga bulan sekali, siswa memeriksa tempat-tempat penampungan air yang dimiliki warga sekitar. Mulai dari jamban hingga tempat makan burung. Satu tim kebagian dua rumah. Tiap tiga bulan setidaknya kami memeriksa 30 rumah. Dengan RT/RW dan PKK, kami juga mensosialisasikan tata cara pemberantasan sarang nyamuk kepada warga sekitar,” ujarnya.
Dukungan lain yang dimiliki sekolah adalah lokasi. SDN Mojoroto 4 yang jauh dari jalan raya. Berada di pinggiran kota, atau boleh dikata masih ndeso untuk ukuran Kota Kediri. Namun hal ini ditangkap sebagai sebuah keuntungan bagi sekolah. Proses KBM tidak terganggu oleh hiruk pikuk aktifitas lain. Lingkungan dan masyarakatnya juga belum terlalu banyak terkontaminasi oleh material keras penutup tanah dan budaya tak acuh. Siswa yang notabene berasal dari lingkungan sekolah, lebih cepat menyerap visi sekolah tentang lingkungan hidup. ”Saat bisa dipastikan bahwa budaya bersih siswa terbawa hingga ke rumah,” pungkas Dwi. .rer-KP

kirim ke teman | versi cetak

Berita "Presensi Kediri" Lainnya