Jaranan, Alat Pembelajaran SLB
SLB PUTERA ASIH- Kuda lumping atau jaranan, ternyata tidak saja menggelitik dunia pendidikan untuk turut melestarikan. Mulai dari sekedar nanggap oleh sekolah-sekolah saat mereka punya hajatan, atau membentuk kelompok pegiat seperti di SMPN 8 Kediri. Bagi rekan-rekan di SLB Putera Asih Kediri, kuda lumping bukan lagi subyek atau obyek seni. Kuda lumping adalah mekanisme dan alat perangsang yang cukup ampuh dalam proses pembelajaran.
“Kuda lumping adalah seni yang cukup populer, bahkan di kalangan siswa SLB. Maka kami memanfaatkan kepopuleran itu sebagai pendukung proses pembelajaran di sekolah,” terang Kepala Sekolah C1 SLB Putera Asih Kediri, Dra Ratna Eko Fauziah.
Meski demikian Ratna tidak menyebutkan seni rakyat tersebut sebagai salah satu ekstrakurikuler di sekolahnya, sebab untuk SLB, sebutan ekstrakurikuler bisa memiliki makna berbeda. Hanya saja, popularitas kuda lumping, menjadikan mata seni ini sebagai pemicu dalam berbagai kegiatan yang akan dilakukan.
Ditambahkan Ratna, jenjang C1 adalah kelompok tuna grahita sedang, yang masuk dalam kategori mampu latih saja. Ratna mencontohkan, untuk mengajak siswa senam atau menari, ungkapan yang dikatakan adalah bermain menari kuda lumping. ”Jangankan diajak, mendengar musiknya saja, siswa sudah bersorak senang. Jika sudah demikian, siswa lebih mudah diajak melakukan berbagai aktifitas” imbuh Ratna.
Pada prinsipnya, nilai perangsang disebutkan Ratna ada pada musik. Terapi musik, demikian sebutan resmi untuk metode pembelajaran ini. Gerak menjadi hal lanjutan. Namun bukan berarti siswa mendapat angin surga belaka, tanpa merasakan berkuda lumping betulan. Minimal satu kali dalam satu bulan, pelajaran gerak yang diikuti seluruh kelompok usia kelas C1, diberikan latihan menari kuda lumping.
“Hasilnya positif. Bahkan kami sempat pentas dalam kegiatan HUT sekolah tahun lalu,” pungkas Ratna. .rer-KP
