SALAH SIAPA

Sarjana Menganggur
Ada 57 ribu sarjana menganggur di Jawa Timur dan masih ada 500 ribu lagi di Indonesia. Jumlah ini memang terbilang kecil kalau dibanding pengangguran SD dan SMA (serta sejenjangnya) tapi tentu tetap menyesakkan; sudah sarjana kok nganggur. Sebab sarjana lebih punya bekal ilmu, lebih mantap pengalaman, bahkan marak ditumbuhkan semangat wirausaha dan jiwa kepemimpinan. Lalu salah siapa?
Melalui penelitian untuk desertasinya, PR III Universitas Kanjuruhan Drs H Christea Fresdiantara Ak MM ini menemukan fakta menarik. Salah satu penyebab tingginya angka pengangguran sarjana ternyata amat terkait dengan kultur priyayi. Bentuknya adalah orientasi pencapaian gelar sarjana yang semata untuk status sosial tanpa menekankan pada kompetensi, keahlian, apalagi prospektif keilmuan pada lapangan kerja.
“Anak-anak dari masyarakat dengan kultur priyayi yang kuat cenderung memaksakan untuk menjadi sarjana, tidak peduli kuliah di jurusan atau program studi apa. Akibatnya setelah menjadi sarjana mereka ini menjadi kelompok sarjana yang menyumbang lamanya masa tunggu mendapat pekerjaan,” tegas Christea.
Sementara praktisi pendidikan Prof Dr H Mudjia Rahardjo MSi menyebut kesalahan itu ada pada pemerintah. Hingga saat ini pemerintah belum mampu membuat pemetaan kebutuhan tenaga kerja (national grand design university graduate). Padahal pemetaan itu penting sebagai arah kampus dalam ‘memproduksi’ lulusan yang sesuai tuntutan dan kebutuhan. Termasuk bila harus menutup dan membuka program studi yang ada.
“Memang kegundahan ini sangat pragmatis tapi kalau pemerintah bisa memetakan kebutuhan tenaga birokasi lewat pendidikan kedinasan (STAN, STPDN, dan sejenisnya –red), harusnya pemerintah juga bisa membuat pemetaan kebutuhan pada bidang-bidang yang lain,” tegas Mudjia.
Penegasan ini juga diperkuat oleh Wakil Ketua I STIBA Malang Drs Sakban Rosidi MSi. Menurutnya, tanpa pemetaan membuat kampus hanya berfungsi memperpanjang barisan pencari kerja (long job queuing). Malah disebutnya bahwa Indonesia adalah masyarakat kelebihan pendidikan. Banyak orang ‘membeli’ pekerjaan tingkat ‘SMA’ dengan ijazah sarjana. “Masa jadi sales sabun mandi saja perlu ijazah sarjana,” tanyanya.
Berbeda pandangan, Rektor Universitas Brawijaya Prof Dr Ir Yogi Sugito dengan tegas menyebut bahwa sarjana menganggur itu ada empat faktor. Pertama program studi yang diambil tidak sesuai kebutuhan masyarakat dan dunia usaha. Kedua kualitas dan kompetensi sarjana yang tidak sesuai. Ketiga faktor makro dimana peluang kerja terbatas, dan keempat rendahnya softskill.
“Hampir semua kampus saat ini mutlak memenuhi dan mengembangkan softskill. Semua kampus juga membekali siswa dengan penanaman wirausaha dan jiwa kepemimpinan. Makanya kalau ada sarjana yang menganggur itu salahnya sendiri. Mereka sudah dibekali ilmu, dibekali kewirausahaan, bahkan pernah praktik dan magang kerja, kok setelah lulus malah nganggur,” terang guru besar Fakultas Pertanian ini.
Lepas dari banyaknya faktor yang mempengaruhi angka pengangguran sarjana, Rektor Universitas Ma Chung Leenawaty Limantara PhD menilai harusnya kampus yang lebih fokus melakukan pembenahan. “Kita yang harus bertanggung jawab, bila mampu kita harus salurkan mereka pada lapangan kerja. Tapi minimal kita harus bekali mereka dengan karakter dan sikap hidup yang hebat serta semangat wirausaha yang kuat. Dengan begini lulusan bisa adaptable terhadap lingkungan, mampu survive, dan mengambil setiap kesempatan,” tegasnya..mas-KP
