Ironi Kota Pendidikan;Ruang dan Forum Diskusi Tengah Mati
Senin, 12 Mei 2008 07:44:52 - oleh : redaksi - dilihat 696
Muhammad Nashir
Ruangannya tidak cukup luas namun masih terasa lega untuk tempat duduk bagi 30 an orang. Ada banyak judul buku -kebanyakan tentang filsafat, sosial, dan kesusastraan- yang bisa bebas dibaca, gratis, malah lebih asyik sambil nyruput kopi. Bila penat, arahkan sejenak pandangan mata ke seputaran dinding, ada beberapa karya goresan tangan berbentuk gambar dan abstraksi sarat makna, sedikit satire penuh kritik.
Ruangan ini sengaja disediakan oleh Muhammad Nashir, pemilik sekaligus pengelolanya, sebagai ruang bebas baca. Lebih dari itu, ruang yang menyatu dengan Toko Buku Poestaka Rakjat ini, di desain sebagai wadah bagi tumbuhnya (kembali) geliat diskusi keilmuan serta kesadaran kritis masyarakat. Ah, dimanakah kini ghirah intelektual pada masyarakat di Kota Pendidikan ini, hingga ruang dan forum diskusinya makin tersisih.
Berikut pandangan calon bapak ini kepada Mas Bukhin dan fotografer Hayu Yudha Prabawa dari KORAN PENDIDIKAN.
Sejenak terlihat kontradiksi bagi saya. Di lokasi depan kampus yang sebenarnya memiliki nilai ekonomis cukup tinggi, anda membuka sebuah toko buku dan ruang bebas baca. Padahal sepanjang jalan ini, orang lain lebih memberikan layanan barang dan jasa. Boleh tahu apa mendasari pilihan anda ini?
Waduh, kalau soal alasan ini kok kedengarannya nganeh-nganehi bila disebutkan. Tapi jujur harus diakui bila pilihan membuka ruang bagi publik ini lebih sebagai kepedulian sosial. Kebetulan bangunan ini ada dua lantai, di atas dimanfaatkan sebagai Toko Buku Poetaka Rakjat, di bawahnya ruang bebas baca bagi siapa saja. Ya ruang ini bisa juga jadi warung kopi, warung baca, dan pada kondisi tertentu dimanfaatkan sebagai forum diskusi.
Anda menyebut tadi ada toko buku di lantai atas. Apa bayangan saya salah bila konsep toko buku itu tidak berbeda dengan kebanyakan toko buku yang lain?
Saya kok punya keinginan lebih melalui toko buku ini. Bila di kebanyakan toko buku, model pelayanannya ‘ambil-lihat-beli’, di sini saya lebih mengarahkan untuk ‘buka dan baca terlebih dulu’. Lalu monggo, kita komunikasikan, kita diskusikan isi buku ini untuk saling menambah wawasan dan dialektika. Barangkali model ini bisa saya terapkan mengingat koleksi buku di sini lebih banyak pada buku referensi (sosial, sejarah, sastra, dan politik –red) dan kebetulan juga langka (tahun 1980-an hingga 1990-an –red).
Tidak ada ruang bagi buku-buku populer di toko buku ini? Apa tidak rugi?
Prinsip saya, menjual buku itu harus bisa memahami segala konteks keilmuan yang ada pada buku yang kita jual. Ini barangkali alasan minimnya ruang yang saya berikan bagi koleksi buku-buku populer dan benar kalau anda sebut secara ekonomi itu tidak menguntungkan. Tapi bagi saya, kepuasan batin itu kok lebih tidak ternilai harganya.
Kepuasan seperti apa?
Ya melalui model berdiskusi tentang isi buku dengan setiap yang datang, ada hubungan intelektual dan emosional yang terikat. Hubungan seperti ini yang bagi saya tidak ternilai. Apalagi bila dari diskusi ini mengarah pada referensi baru yang belum saya punya, proses perburuannya makin menjadi menarik dan menantang, bisa-bisa sampai menjelajah ke luar kota.
Saya juga tertarik dengan konsep ruang bebas baca yang anda gagas di lantai bawah. Bahkan tadi anda sebut bila ruang ini anda harapkan mampu menjadi forum bagi tumbuhnya kesadaran kritis melalui ragam diskusi. Apa pula yang ingin anda capai?
Semua ini berawal dari keprihatinan bahwa di sekeliling kita, aktifitas intelektual berbasis diskusi keilmuan itu makin kurang bahkan nyaris habis dan mati. Padahal Malang ini meneguhkan identitas sebagai Kota Pendidikan, teramat sayang bila orientasinya hanya pada kuantitas. Banyak gedung sekolah dan kampus di bangun, di antaranya terus berlomba memperbaiki fasilitas fisik. Sementara secara kualitas tidak diimbangi dengan tumbuh maraknya ruang dan forum diskusi.
Banyak kalangan memang yang sepakat dengan anda bila status Kota Pendidikan di Malang ini baru bisa diukur nyata secara kuantitas. Namun lebih jauh, menurut anda apa yang menjadikan ruang dan forum diskusi ini makin sepi?
Pangkalnya menurut saya itu ada pada kebijakan. Secara nasional hingga turun ke lokal, kebijakan yang mengarah pada peningkatan kualitas pendidikan itu lebih berorientasi kuantitatif, seperti yang tadi saya contohkan. Lebih konkritnya lagi kalau kita telusuri dari minimnya gairah berdiskusi di kalangan mahasiswa. Kebijakan pendidikan yang otonom -biaya kuliah mahal, pengetatan waktu lulus- turut mengerangkeng niatan berdiskusi ini. Di kalangan aktivis lembaganya sendiri, sudah lebih dulu ditumbuhkan syak wasangka terhadap kepentingan masing-masing kelompok. Kalau ada undangan diskusi misalnya, ada yang males datang hanya karena tidak cocok dengan kepentingannya. Ya kalau tidak datang terus menggiatkan forum diskusi di lembaganya itu lebih baik. Masalahnya tidak datang terus tidur, ini kan ironi.
Kalau forum diskusi di luar kampus, pada kelompok masyarakat misalnya, apa yang menurut anda menjadi faktor?
Kurang lebih sama lah, adanya ketakutan pada kepentingan yang sebenarnya menurut saya itu tidak berdasar. Faktor lainnya, istilah forum diskusi itu lebih dulu diasosiasikan sebagai kegiatan yang wah; harus di hotel, menyediakan makanan enak, mengundang pembicara tingkat nasional dan pernak-pernik lainnya. Padahal inti dari kegiatan diskusi itu kan adanya dialektika yang bisa dipertanggungjawaban secara keilmuan dan sosial. Tidak harus dibatasi tempat, kenapa jalanan tidak dimanfaatkan sebagai media penyadaran?
Kalau lah boleh berbagi, berdasarkan pengalaman anda, bagaimana geliat dan jatuh bangunnya aktivitas diskusi ini di masyarakat Malang?
Sebelum di sini (Jl MT Haryono 54 Malang –red), kurang lebih 6 tahun saya membuka toko yang sama di Jl Sriwijaya. Dari jalanan yang kecil ini, bisa marak dengan tumbuhnya Kampoeng Budaya untuk mewadai kegiatan keilmuan dari semua bidang, mulai sosial, filsafat, hingga seni dan sastra. Tumbuh pula Forum 28 yang menandai aktivitas diskusinya setiap tanggal 28 per bulannya. Lalu tumbuh pula Forum Pelangi dengan bidang kajian diskusi yang lebih beragam. Komunitas dan forum-forum ini sekarang sepi, kalau lah tidak ingin dibilang mati.
Lalu bagaimana anda menilai munculnya gerakan-gerakan moral yang menurut saya kok turut menjadi bagian dalam upaya penyadaran masyarakat. Sebut saja misalnya kampanye membaca buku atau kegiatan Malang Membaca yang saat ini sedang digelar?
Gerakan penyadaran memang tidak melulu melalui model diskusi yang menurut sebagian orang dianggap sebagai kegiatan membuang waktu. Namun gerakan moral menurut saya juga tidak cukup dampak untuk menyadarkan secara massal. Sebab ada kampanye kontradiktif yang dilakukan oleh media (cetak atau elektronik) melalui tayangan dan acara-acaranya, juga masih dominannya kebijakan yang masih belum memberi ruang bebas.
Berarti anda lebih cenderung sepakat bila kesadaran massal itu amat dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah?
Iya sebab saya melihat masyarakat menunjukkan tingkat kepatuhan yang tinggi pada kebijakan dan aturan. Makanya, untuk bisa melakukan penyadaran massal lebih efektif melalui kebijakan. (*)
Biodata
Nama
Muhammad Nashir
Lahir
Malang, 4 Juli 1970
Alamat
Toko Buku Poestaka Rakjat, Jl MT Haryono 54 Malang
Istri
Nuril Millati
Ruangannya tidak cukup luas namun masih terasa lega untuk tempat duduk bagi 30 an orang. Ada banyak judul buku -kebanyakan tentang filsafat, sosial, dan kesusastraan- yang bisa bebas dibaca, gratis, malah lebih asyik sambil nyruput kopi. Bila penat, arahkan sejenak pandangan mata ke seputaran dinding, ada beberapa karya goresan tangan berbentuk gambar dan abstraksi sarat makna, sedikit satire penuh kritik.
Ruangan ini sengaja disediakan oleh Muhammad Nashir, pemilik sekaligus pengelolanya, sebagai ruang bebas baca. Lebih dari itu, ruang yang menyatu dengan Toko Buku Poestaka Rakjat ini, di desain sebagai wadah bagi tumbuhnya (kembali) geliat diskusi keilmuan serta kesadaran kritis masyarakat. Ah, dimanakah kini ghirah intelektual pada masyarakat di Kota Pendidikan ini, hingga ruang dan forum diskusinya makin tersisih.
Berikut pandangan calon bapak ini kepada Mas Bukhin dan fotografer Hayu Yudha Prabawa dari KORAN PENDIDIKAN.
Sejenak terlihat kontradiksi bagi saya. Di lokasi depan kampus yang sebenarnya memiliki nilai ekonomis cukup tinggi, anda membuka sebuah toko buku dan ruang bebas baca. Padahal sepanjang jalan ini, orang lain lebih memberikan layanan barang dan jasa. Boleh tahu apa mendasari pilihan anda ini?
Waduh, kalau soal alasan ini kok kedengarannya nganeh-nganehi bila disebutkan. Tapi jujur harus diakui bila pilihan membuka ruang bagi publik ini lebih sebagai kepedulian sosial. Kebetulan bangunan ini ada dua lantai, di atas dimanfaatkan sebagai Toko Buku Poetaka Rakjat, di bawahnya ruang bebas baca bagi siapa saja. Ya ruang ini bisa juga jadi warung kopi, warung baca, dan pada kondisi tertentu dimanfaatkan sebagai forum diskusi.
Anda menyebut tadi ada toko buku di lantai atas. Apa bayangan saya salah bila konsep toko buku itu tidak berbeda dengan kebanyakan toko buku yang lain?
Saya kok punya keinginan lebih melalui toko buku ini. Bila di kebanyakan toko buku, model pelayanannya ‘ambil-lihat-beli’, di sini saya lebih mengarahkan untuk ‘buka dan baca terlebih dulu’. Lalu monggo, kita komunikasikan, kita diskusikan isi buku ini untuk saling menambah wawasan dan dialektika. Barangkali model ini bisa saya terapkan mengingat koleksi buku di sini lebih banyak pada buku referensi (sosial, sejarah, sastra, dan politik –red) dan kebetulan juga langka (tahun 1980-an hingga 1990-an –red).
Tidak ada ruang bagi buku-buku populer di toko buku ini? Apa tidak rugi?
Prinsip saya, menjual buku itu harus bisa memahami segala konteks keilmuan yang ada pada buku yang kita jual. Ini barangkali alasan minimnya ruang yang saya berikan bagi koleksi buku-buku populer dan benar kalau anda sebut secara ekonomi itu tidak menguntungkan. Tapi bagi saya, kepuasan batin itu kok lebih tidak ternilai harganya.
Kepuasan seperti apa?
Ya melalui model berdiskusi tentang isi buku dengan setiap yang datang, ada hubungan intelektual dan emosional yang terikat. Hubungan seperti ini yang bagi saya tidak ternilai. Apalagi bila dari diskusi ini mengarah pada referensi baru yang belum saya punya, proses perburuannya makin menjadi menarik dan menantang, bisa-bisa sampai menjelajah ke luar kota.
Saya juga tertarik dengan konsep ruang bebas baca yang anda gagas di lantai bawah. Bahkan tadi anda sebut bila ruang ini anda harapkan mampu menjadi forum bagi tumbuhnya kesadaran kritis melalui ragam diskusi. Apa pula yang ingin anda capai?
Semua ini berawal dari keprihatinan bahwa di sekeliling kita, aktifitas intelektual berbasis diskusi keilmuan itu makin kurang bahkan nyaris habis dan mati. Padahal Malang ini meneguhkan identitas sebagai Kota Pendidikan, teramat sayang bila orientasinya hanya pada kuantitas. Banyak gedung sekolah dan kampus di bangun, di antaranya terus berlomba memperbaiki fasilitas fisik. Sementara secara kualitas tidak diimbangi dengan tumbuh maraknya ruang dan forum diskusi.
Banyak kalangan memang yang sepakat dengan anda bila status Kota Pendidikan di Malang ini baru bisa diukur nyata secara kuantitas. Namun lebih jauh, menurut anda apa yang menjadikan ruang dan forum diskusi ini makin sepi?
Pangkalnya menurut saya itu ada pada kebijakan. Secara nasional hingga turun ke lokal, kebijakan yang mengarah pada peningkatan kualitas pendidikan itu lebih berorientasi kuantitatif, seperti yang tadi saya contohkan. Lebih konkritnya lagi kalau kita telusuri dari minimnya gairah berdiskusi di kalangan mahasiswa. Kebijakan pendidikan yang otonom -biaya kuliah mahal, pengetatan waktu lulus- turut mengerangkeng niatan berdiskusi ini. Di kalangan aktivis lembaganya sendiri, sudah lebih dulu ditumbuhkan syak wasangka terhadap kepentingan masing-masing kelompok. Kalau ada undangan diskusi misalnya, ada yang males datang hanya karena tidak cocok dengan kepentingannya. Ya kalau tidak datang terus menggiatkan forum diskusi di lembaganya itu lebih baik. Masalahnya tidak datang terus tidur, ini kan ironi.
Kalau forum diskusi di luar kampus, pada kelompok masyarakat misalnya, apa yang menurut anda menjadi faktor?
Kurang lebih sama lah, adanya ketakutan pada kepentingan yang sebenarnya menurut saya itu tidak berdasar. Faktor lainnya, istilah forum diskusi itu lebih dulu diasosiasikan sebagai kegiatan yang wah; harus di hotel, menyediakan makanan enak, mengundang pembicara tingkat nasional dan pernak-pernik lainnya. Padahal inti dari kegiatan diskusi itu kan adanya dialektika yang bisa dipertanggungjawaban secara keilmuan dan sosial. Tidak harus dibatasi tempat, kenapa jalanan tidak dimanfaatkan sebagai media penyadaran?
Kalau lah boleh berbagi, berdasarkan pengalaman anda, bagaimana geliat dan jatuh bangunnya aktivitas diskusi ini di masyarakat Malang?
Sebelum di sini (Jl MT Haryono 54 Malang –red), kurang lebih 6 tahun saya membuka toko yang sama di Jl Sriwijaya. Dari jalanan yang kecil ini, bisa marak dengan tumbuhnya Kampoeng Budaya untuk mewadai kegiatan keilmuan dari semua bidang, mulai sosial, filsafat, hingga seni dan sastra. Tumbuh pula Forum 28 yang menandai aktivitas diskusinya setiap tanggal 28 per bulannya. Lalu tumbuh pula Forum Pelangi dengan bidang kajian diskusi yang lebih beragam. Komunitas dan forum-forum ini sekarang sepi, kalau lah tidak ingin dibilang mati.
Lalu bagaimana anda menilai munculnya gerakan-gerakan moral yang menurut saya kok turut menjadi bagian dalam upaya penyadaran masyarakat. Sebut saja misalnya kampanye membaca buku atau kegiatan Malang Membaca yang saat ini sedang digelar?
Gerakan penyadaran memang tidak melulu melalui model diskusi yang menurut sebagian orang dianggap sebagai kegiatan membuang waktu. Namun gerakan moral menurut saya juga tidak cukup dampak untuk menyadarkan secara massal. Sebab ada kampanye kontradiktif yang dilakukan oleh media (cetak atau elektronik) melalui tayangan dan acara-acaranya, juga masih dominannya kebijakan yang masih belum memberi ruang bebas.
Berarti anda lebih cenderung sepakat bila kesadaran massal itu amat dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah?
Iya sebab saya melihat masyarakat menunjukkan tingkat kepatuhan yang tinggi pada kebijakan dan aturan. Makanya, untuk bisa melakukan penyadaran massal lebih efektif melalui kebijakan. (*)
Biodata
Nama
Muhammad Nashir
Lahir
Malang, 4 Juli 1970
Alamat
Toko Buku Poestaka Rakjat, Jl MT Haryono 54 Malang
Istri
Nuril Millati
