|
Selamat Datang, Register | Login
Home » Apel Pagi » Swasta Tetap Saja Swasta

Swasta Tetap Saja Swasta

Kamis, 5 April 2012 10:17:41  •  Oleh : redaksi  •    Dibaca : 1693
Swasta Tetap Saja Swasta

 

Kiranya, begitulah cara pandang pemerintah selama ini dalam merumuskan kebijakan pendidikan. Cara pandang seperti ini, berarti pemerintah ingin membuat garis pembatas dan pembeda yang tegas; antara negeri dan swasta. Dan domain pemerintah, beserta kebijakan pendidikannya, lebih mengakomodir negeri dibanding swasta. Setidaknya ini bisa disima dari niat kebijakan pemerintah memberikan Beasiswa Bidik Misi pada kampus swasta.

 

Kebijakan ini kali pertama digulirkan pada 2009 lalu. Beasiswa ini terbilang fenomenal sebab beda dengan model beasiswa lain yang diperuntukan bagi mahasiswa. Beasiswa ini mengcover secara penuh semua biaya pendidikanpenerimanya hingga tuntas studi jenjang sarjana. Ini pun, masih ditambah dengan pemberian biaya hidup bagi penerima yang besarannya disesuaikan masing-masing wilayah.

 

Maka tidak berlebihan jika nominal beasiswa ini begitu besar. Tahun 2012 ini saja, disebutkan oleh Dirjen Dikti Djoko Santoso, setiap mahasiswa penerima bakal mendapat Rp 12 juta per tahun per orang. Dengan batasan studi sarajana selama empat tahun, maka setiap mahasiswa menerima sejumlah Rp 48 juta per tahun. Bagi kampus penerima mahasiswa yang dapat beasiswa ini, tentu jumlah yang cukup besar sebagai sumber pendanaan.

 

Masalahnya, sejak 2009 sampai sekarang, kampus penerima Bidik Misi ini hanya kampus negeri saja. jumlah penerima pun terus meningkat. Pada tahun pertama, pemerintah mengalokasikan beasiswa ini untuk 20 ribu mahasiswa. Setahun berikutnya naik menjadi 30 ribu, dan pada tahun ini naik lagi menjadi 50 ribu. Praktis setiap kampus negeri mendapat kuota rata-rata 150-300 mahasiswa. 

Padahal esensi beasiswa adalah memberi bantuan pendanaan bagi mereka yang tidak mampu secara ekonomi dan memiliki prestasi akademis. Mengukur dengen esensi ini, maka sasaran penerima beasiswa akan banyak tersebar di kampus swasta. Praktisi pendidikan Dr Christea Frisdiantara Ak MM sampai menyebut bahwa orang yang kaya sudah pasti akan memilih kuliah di negeri, kalau pun jatuh pada swasta, itu karena tidak diterima di negeri.

 

Gambaran di atas tentu menjadi penegas betapa kebijakan pendidikan begitu mengakomodir negeri. Lha wong pemerintah sudah tahu; jumlah kampus swasta itu lebih banyak; jumlah mahasiswa itu juga lebih banyak di kampus swasta; jumlah mahasiswa yang kurang mampu secara ekonomi juga ada di swasta; kenapa tidak ada alokasi Bidik Misi untuk swasta? Sementara untuk kampus negeri begitu melimpah.

 

Sekarang pun, saat pemerintah punya niat memberi Beasiswa Bidik Misi pada kampus swasta, tetap tidak bisa sama seperti negeri. Dari sisi jumlah; alokasi mahasiswa yang menerima bidik misi untuk PTS ini hanya dua ribu saja. Dan, kampus swasta yang menerima alokasi ini, harus terakreditasi ‘A’. Padahal Bidik Misi untuk kampus negeri, sama sekali tidak menggunakan syarat akreditasi. Ah, benar-benar; swasta memang harus tetap swasta (*)

 

 

 

 

 

 

Baca "Apel Pagi" Lainnya

Komentar Anda